Pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani & Nuklir Iran

Trump berkata "Kekuasaan teror Soleimani telah berakhir" setelah AS meluncurkan serangan pesawat nirawaknya di Nandara Baghdad, Irak untuk membunuh komandan Pengawal Revolusi Iran, pelopor operasi Timur Tengah Iran sebagai kepala Pasukan Quds. Pasukan Quds adalah cabang pasukan keamanan Iran bertugas untuk melakukan berbagai operasi di luar negeri. 

mengapa qasem soleimani dibunuh


Sudah bertahun-tahun, baik itu di Suriah, Irak, Libanon atau mana saja, Soleimani telah menjadi pembangkit utama serta penghasut dalam memperpanjang dan memperluas pengaruh Iran melalui penguatan sekutu lokal Teheran dan perencanaan serangan. Selain itu, seorang wakil komandan dari Popular Mobilization Forces bernama Abu al-Muhandis selaku kelompok milisi Irak yang bekingannya adalah Iran juga dikabarkan tewas.

Serangan AS ini atas perintah presiden Donald Trump. Alasan yang diberikan presiden kontroversial tersebut atas penyerangannya karena beberapa waktu sebelumnya serangan juga telah dilakukan oleh Iran ke pangkalan militer AS di Irak sehingga mengakibatkan seorang kontraktor AS meninggal. Disebutkan oleh pejabat AS bahwa serangan 30 roket tidak hanya menggempur pangkalan militer namun menghujani gudang amunisi juga. Dikatakan oleh pejabat anonim tersebut bahwa serangannya itu merupakan yang terbesar dalam serentetan serangan roket terhadap basis AS di negara itu sejak akhir Oktober lalu. 

warga amerika kontraktor tewas irak


Kematian kontraktor sipil AS dikatakan sebagai korban pertama AS dari serangkaian serangan. Selain kontraktor AS yang meninggal, ada beberapa personel Irak dan Amerika yang juga terluka atas insiden tersebut. Insiden ini kemudian direspon oleh AS dengan menyerang pasukan militer yang memperoleh dekingan dari Iran di Irak. Selepas itu, kelompok milisi yang dibeking oleh Iran, Kataeb Hezbollah, menyerang kedutaan besar AS di Irak. Diketahui bahwa Kataib Hezbollah memiliki hubungan dengan Iran, namun pengaturan serangan tersebut dibantah olehnya. 

Dikatakan Trump bahwa Jenderal Soleimani dibunuh AS karena ia ditakuti dan dibenci di negaranya sendiri sehingga pria berumur 62 tahun ini sudah seharusnya dibunuh bertahun tahun yang lalu. Pada 2013, John Maguire, seorang mantan perwira CIA menjelaskan kepada The New Yorker bahwa satu satunya operasi paling kuat di Timur Tengah adalah Soleimani. Jenderal Soleimani yang dianggap sebagai sosok terkuat kedua di Iran digadang gadang akan naik menjadi pemimpin berikutnya di Iran. Setelah memulai karir militernya di garis terdepan dalam perang Iran-Irak, Soleiman mulai dikenal sebagai sosok yang amat dibutuhkan di negeri Iran, memainkan peran besar dalam memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. 

Perjanjian Nuklir

Setelah insiden pembunuhan Jenderal Iran tersebut, pemerintah Iran mendeklarasikan bahwa kesepakatan nuklir yang ditetapkan pada tahun 2015 tidak akan lagi dipatuhinya. Dengan diabaikannya batas pengayaan uranium maka ini berarti Iran akan melanjutkan kembali program nuklir. Perjanjian nuklir JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action 2015 yang pernah presiden Barack Obama gagaskan itu menetapkan Iran agar membatasi pengayaan uranium hingga mencapai 3.67 persen, sehingga ini jauh dari keperluan pengembangan senjata nuklir iaitu 90 persen. 

kesepakatan perjanjian nuklir iran


Negara Barat harus menarik serangkaian sanksi terhadap teheran sebagai timbal baliknya. Selain AS, negara lain yang melakukan tanda tangan atas kesepakatan nuklir JCPOA adalah Prancis, Rusia, China, Jerman, Uni Eropa dan Inggris. Akan tetapi, AS pada bulan Mei 2018, dibawah komando Presiden Donald Trump, secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir tersebut dan menerapkan kembali sanksi atas Iran. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fakta Tentang Pilpres Amerika 2020

RCTI Gugat UU Penyiaran

Apa Itu PAGCOR