Fakta Tentang Asal Usul Kesepakatan Nuklir Iran
Program nuklir Iran pada 1950an diciptakan dan dibuat oleh Amerika Serikat. Negara negara Barat seperti Amerika, Inggris, Prancis, dan Jerman terus menyoroti program nuklir Iran. IAEA dan PBB ikut memberikan perhatian setelah berbagai pihak penandatanganan perjanjian kerja sama program nuklir Iran tersangkut konflik kembali.
Sebuah media terkemuka di AS menjelaskan mengenai asal usul program nuklir Iran yang dibuat sejak sebelum Revolusi Islam berkuasa. Dwight D Eisenhower, presiden Amerika ketika itu membangun program Atom untuk Perdamaian yang menginstruksikan Iran untuk menjalaninya. Dengan kata lain, akar program nuklir Iran asalnya dari Amerika sendiri.
Menurut Ali Vaez, seorang analis senior International Crisis Group untuk Iran, program nuklir Iran mulai dilaksanakan pada 1957. Reaktor riset pertama Iran diberikan oleh Amerika, sebuah reaktor nuklir 5 megawatt yang masih beroperasi dan masih berfungsi di Teheran.
Reaktor nuklir tersebut dibangun AS pada 1967 di kampus Universitas Teheran. Di reaktornya terdapat bahan bakar berupa uranium yang diperkaya untuk senjata. Ini termasuk bagian dari program Atoms for Peace dari sang presiden AS saat itu - sebuah inisiatif agar menyediakan negara negara dengan teknologi nuklir sipil yang damai yang bertujuan agar mereka tidak mengejar program nuklir untuk militer.
Negara yang menerima kegunaan program ini antara lain Israel, Pakistan, India, dengan dukungan Iran yang ketika itu dipimpin oleh Shah Reza Pahlavi. Dalam program ini, banyak negara memperoleh apa yang diperoleh Iran - reaktor kecil serta bahan bakar sendiri. Namun dikarenakan booming minyak di tahun 1970an, program nuklir Iran berganti menjadi program nuklir sipil penuh menurut Vaez.
Pemerintah Shah mengirim banyak siswanya kuliah di Institute of Technology (MIT) di Massachusetts untuk belajar teknik nuklir di pertengahan 1970an karena Iran memiliki uang. Namun dilaporkan bahwa banyak pejabat Amerika yang berpendapat bahwa ini adalah suatu kesalahan yang dibuatnya karena mereka khawatir suatu hari nanti Iran akan mengembangkan senjata nuklir.
Semenjak itu, program nuklir Iran mulai dibatasi setelah para diplomat AS bernegosiasi. Masalah dihadapinya ketika Iran yang dipimpin oleh Syah bersikukuh bahwa mereka mempunyai hak yang sama untuk membangun tenaga nuklir seperti negara lainnya. Iran membeli pembangkit nuklir dari Perancis dan Jerman Barat. Reaktor riset di Universitas Teheran terus bekerja.
Pada 1979, Shah tergulingkan dan Ayatollah Ruhollah Khomeini memimpin pemerintahan Islam baru. Awalnya, ulama yang berkuasa tidak tertarik dengan infrastruktur nuklir negara yang telah ada karena dianggap sebagai simbol pengaruh Barat sehingga hendak menjadikannya sebagai tempat penyimpanan gandum.
Namun ketika Iran sedang berperang dengan tetangganya Irak yang dipimpin Saddam Hussein, Iran berulang kali dibom fasilitas nuklir Bushehrnya. Perang yang terus berkelanjutan dari 1980 sampai dengan 1988 mengakibatkan Iran kekurangan listrik yang parah. Dan pada akhirnya Iran pun memutuskan untuk mengaktifkan kembali program nuklirnya.
Setelah program nuklir Iran terus meningkat, Israel pun meluncurkan peringatan kepada dunia bahwa Iran sudah melakukan kemajuan teknologi nuklir yang berbahaya. Dan pada tahun tahun setelah serangan 9/11 kekhawatiran Amerika mulai meningkat.
Secara konsisten Iran terus menyangkal untuk menginginkan senjata meskipun AS serta negara negara lainnya beropini sebaliknya. Di awal 2000an, pembahasan masa depan program nuklir ditawarkan Iran namun AS tidak menandatanganinya meskipun Iran mencapai kesepakatan dengan kekuatan Eropa.
Setelah upaya untuk memperoleh kesepakatan gagal, Iran pun membangun ribuan sentrifugal yang dipakai untuk memperkaya uranium. Pada tahun 2005, Mahmoud Ahmadinejad menjadi presiden baru Iran. Seperti Shah pada dekade sebelumnya, Iran ingin tetap memiliki hak untuk program nuklir, bahkan ketika para rakyat menjadi gelisah setelah perekonomiannya menurun tajam.
Setelah Ahmadinejad terpilih kembali pada Juni 2009, protes bertebaran di jalan jalan Teheran serta tempat lainnya. Para demonstran ditangkap, dipukuli dan bahkan dibunuhi. Presiden Obama mencoba untuk merundingkan kesepakatan nuklir di akhir tahun tersebut namun gagal sehingga AS dan kekuatan lainnya meluncurkan sanksi.
Menjelang tahun 2013, saat akan tibanya pemilihan, kerusuhan terjadi lagi. Presiden baru dipilih rayat Iran, Hassan Rouhani, yang telah berjanji agar meningkatkan hubungan dengan dunia. Ulama ulama yang memiliki kekuasaan tertinggi mengizinkannya. Namun pada diplomat Iran secara diam diam melakukan pertemuan dengan AS.
Pada tahun 2015, kesepakatan kerja sama program nuklir Iran akhirnya tercapai dan melibatkan Jerman, Prancis, Inggris, AS, PBB dan Iran. Namun presiden Donald Trump menarik diri di tahun 2018 dari kesepakatan yang kemudian terus dicela oleh Israel dan sebagian negara Arab tersebut. Dan hingga kini, eskalasi konflik nuklir Iran menjadi tinggi kembali.




Komentar
Posting Komentar