Setelah Resesi Akankah Indonesia Masuk Jurang Depresi?
Pandemi virus Covid-19 yang berlangsung hingga sekarang telah menghancurkan dan melemahkan berbagai negara di seluruh dunia. Akhirnya diakui oleh pemerintah bahwa ekonomi Indonesia tahun ini mengalami resesi. Meski demikian, pemerintah cukup yakin resesi yang terjadi di perekonomian Indonesia tidaklah separah negara lain.
Secara teknikal, mulai disandangnya status resesi oleh sebuah negara apabila pertumbuhan ekonomi negara tersebut mengalami kontraksi secara berturut turut selama dua kuartal.
Dalam kasus negara kita, pertumbuhan ekonominya pada kuartal kedua tahun ini tercatat minus 5,32%. Adapun, diperkirakan oleh Kementerian Keuangan bahwa angkanya ada di kisaran minus 2,9% hingga minus 1% pada kuartal ketiga ini yang bakal diumumkan pada 5 November nanti.
Diungkapkan oleh Febrio Kacaribu, Kepala BKF atau Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu (Kementerian Keuangan) bahwa Indonesia telah terjadi resesi, dimana resesi ini sudah muncul sejak awal kuartal kesatu 2020. Seperti telah diketahui, ekonomi negara ini telah mengalami penurunan ketika itu.
Dari biasanya, PDB Indonesia ada di kisaran 5% dan turun jadi 2.97% pada kuartal 1 2020. Terus berlanjutnya penurunan hingga ke kuartal 2 yang realisasinya minus 5.32%. Febrio menjelaskan "Ini sudah resesi, namun dalam menilai resesi ini sangat lah penting untuk melakukan perbandingan yang fair"
Pada kesempatan yang sama, diungkapkan juga oleh Febrio, perlambatan ekonomi memberi tanda jelas resesi sudah terjadi. Tahun 2020, diperkirakan olehnya ekonomi Indonesia bakal mengalami kontraksi dalam kisaran minus 1.7% hingga minus 0.6%. Direvisinya proyek tersebut dari angka sebelumnya iaitu -1.1% -0.2%.
"Jika dilihat di kuartal pertama sudah turun, tapi belum bisa dibilang resesi karna berapa lamanya belum tahu. Sekarang, jika dilihat kuartal kedua melemah dan kuartal ketiga juga melemah. Ternyata kuartal pertama, perlambatan sudah terjadi dan terus berkelanjutan" paparnya.
Namun Indonesia bukan satu satunya negara yang terkena resesi, Febrio menjelaskan sejumlah negara bahkan tercatat terkena resesi lebih parah dari Indonesia, seperti contohnya India yang diketahui minus 24% ataupun negara negara lain yang ekonominya mayoritas terkontraksi di kisaran 10 hingga 15%.
Diterangkan juga, walaupun Indonesia terkena resesi namun perlu dilihat dengan memakai perspektif yang luas, terutama jika ekonomi kita cuman minus 1.7% hingga minus 0.6% kondisi demikian jauh lebih baik jika dibandingkan dengan perekonomian negara seperti yang telah disebutkan. "Kita berkata bahwa hal ini merupakan masalah yang cukup berat namun targeting juga dilakukan serta tetap berhati hati" tegasnya.
Setelah resesi akankah Indonesia masuk jurang depresi?
Semakin melemahnya konsumsi masyarakat tercermin dari IHK (Indeks Harga Konsumen) yang mengalami kembali deflasi pada September tahun ini. Dalam 3 bulan terakhir, deflasi ini merupakan yang ketiga kalinya terjadi secara berturut turut. BPS atau Badan Pusat Statistik terakhir mencatat IHK pada bulan September 2020 terjadinya deflasi senilai 0.05% secara mtm (month-to-month).
IHK mengalami inflasi senilai 0.89% sepanjang tahun kalender (ytd/ year to date). Laju IHK sementara itu secara tahunan tercatat ada di posisi inflasi senilai 1.42% (yoy/ year on year). Sementara itu, inflasi inti di bulan September 2020 terlapor berada terendah dalam sepanjang sejarah, iaitu senilai 1.32% ytd. Inflasi intinya secara mtm tercatat senilai 0.13%.
Selama 3 bulan terakhir ini, inflasi yang terlihat bisa menjadi gambaran ekonomi Indonesia bakal memasuki fase resesi. Apalagi jika konsumsi masyarakat merupakan penggerak terbesar terhadap ekonomi Indonesia.
Sejalan dengan munculnya deflasi, pada kuartal ketiga pemerintah memproyeksi konsumsi rumah tangga diperkirakan bakal terkontraksi di kisaran -3 hingga -1.5%.
Oleh karena itu, total proyeksi konsumsi Indonesia di 2020 bakal kontraksi di kisaran -2.1 sampai -1%.
Kemudian pemerintah memproyeksi juga pertumbuhan ekonomi di kuartal 3 2020 diprediksi negatif senilai -2.9% sampai -1.0%. Sedangkan untuk keseluruhan 2020 ekonomi diyakini akan terkoreksi -1.7 hingga -0.6%.
Eric Alexander Sugandi, peneliti Ekonomi Senior IKS (Institu Kajian Strategis) menjelaskan ekonomi di kuartal ketiga tahun 2020 dipastikan akan tercatat negatif secara tahunan (yoy/ year-on-year).
Eric mengatakan dampak yang jelas menandai adanya resesi ekonomi ialah terjadinya lonjakan pada tingkat kemiskinan dan angka pengangguran. Meski demikian, ia menerangkan dampak resesi lebih jauh atau sinyal ekonomi negara ini yang mengarah ke depresi masih belum terlihat.
Berdasarkan definisi The Economist, terjadinya depresi ekonomi ketika PDB sebuah negara mengalami penurunan sampai 10%, atau mengalami resesi yang berkelanjutan hingga 2 tahun lebih lamanya. Menurut Bhima Yudhistira, Ekonom Indef atau Institute for Development of Economics and Finance, jatuhnya ke jurang depresi ekonomi bisa terjadi bila Indonesia terkena resesi berkelanjutan hingga tahun 2021.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tanda depresi ialah munculnya deflasi yang sangat dalam, di mana harga harga barang tidak lagi naik melainkan turun. BPS mencatat deflasi sudah berlangsung dalam 3 bulan terakhir. Menurut Bhima, dikhawatirkan jika deflasi ini terjadi secara terus menerus maka pertumbuhan ekonomi hingga kuartal 4 2020 bakal terkena tekanan, terutama onvestasi dan konsumsi rumah tangga. "Jika pandemi semakin lama teratasi maka akan makin lemah daya beli masyarakat, dan makin besar pula kelas menengah atas saving di bank agar hindari resiko" ungkapnya.
Tentu, dampak dari depresi akan jauh lebih mengerikan jika dibandingkan dengan resesi ekonomi. Selain munculnya PHK massal, juga akan terjadinya kebangkrutan massal di sektor industri secara permanen jika ekonomi negara masuk jurang depresi.




Komentar
Posting Komentar